Uci's posts with tag: film
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Sebenernya sih gak terlalu pengen nonton film ini, tapi karena diajak nonton sama segerombolan ex timbiru....., jadi ya...mau aja deh. Yang penting mah....gak bayar... hihihi...dasar gak mau rugi tea. Masuknya rada telat ...karena biasa...saling menunggu...tapi blom terlalu ketinggalan sih... Dibuka dengan keinginan Caca Sutarya alias cacing yang kebelet pengen masuk geng motor. Ternyata cacing masih punya hati nurani, terbukti dengan selalu ingat nasihat ibunya, sehingga selalu gagal menjalankan ujian-ujian penuh kejahatan yang dijadikan syarat untuk menjadi member geng motor....hihihi...lumayan kocak sih....adegan flasbacknya dia. Akibat terlalu baik hatinya, Cacing berkali-kali ditolak masuk geng motor manapun. Akhirnya, dengan keempat temannya, sepakat untuk bikin geng motor baru, bernama the Tarix Jabrix, yang misinya berbuat kebaikan deh 
Pokoknya, dalam bermotor di jalanan, semua sepakat harus mengikuti aturan berlalu lintas, salah satunya mereka harus punya SIM, ternyata salah satu member geng tarix jabrix, si kembar Ciko dan Coki, ternyata selama ini momotoran gak punya sim, jadi disemangati oleh teman-temannya untuk bikin SIM....sayang adegan ngambil SIMnya gak di Polwiltabes Bandung...hehehe, tapi kebayang sih kalo sampe Polwiltabes Bandung sampe dipake syuting...pasti heboh soalnya tempatnya sempiiit.
Seperti biasa, namanya juga film anak muda, ditambahin adegan cinta-cintaan antara Caca dengan Callista (Carissa Putri) yang ceritanya adik dari ketua geng Motor Gede, The Smoker.
Aktingnya The Chancuters lumayan juga sih, meskipun kata teman-teman nonton saya, jokenya rada garing, karena itu joke lama... ah...da saya mah udah lama gak gaul, jadi buat saya sih lucu-lucu aja. Pokoknya sepanjang film ketawa terus deh Para pendukungnya juga lumayan lah...seperti Candil yang jadi waria lampu merah, trus Joe P Project yang jadi bapaknya Mulder, lumayan lucu lah...Hanung Bramantyo yang jadi supervisor sutradara juga gak mau kalah...ikutan jadi figuran lucu-lucuan juga.
Cuma....sebagai mantan timbiru-nya bandungtrails....maka kami ber7, sangat-sangat terganggu dengan setting lokasi yang buat mata kami yang mantan preman braga dan sekitarnya... kok settingnya di situ lagi situ lagi.
Contohnya : adegan Candil sebagai waria lampu merah, mengambil lokasi di pertigaan jalan braga asia afrika....cukup mengganggu mata saya..soalnya di situ kan gak ada lampu merah, bahkan ada angkot gede bage stasiun pula di belakang motornya cacing....heuheu... kan jalurnya gak lewat situ...jadi keliatan terlalu mengada-ngada. Blom lagi, kemudian ada adegan nenek-nenek nyebrang...masih di situ juga lokasinya.
Yang bikin rada gak enak dipandang juga...adegan becanda di depan sekolah.....itu kan lokasinya di depan gerbang samping SMA3... sekolah saya dan Indra...maka mata kami berdua agak terkaget-kaget, karena adegan sekolah yang tampil setelah itu bukanlah SMA 3 tapi sekolah lain... buat mata kami yang mantan preman di situ....cukup mengganggu....mengganggu memori...hihihi...secara itu kan tempat nongkrong jaman SMA dulu... saya ada fotonya kalo gak percaya 
Trus adegan brenti di halte waktu kehujanan....itu kan lokasinya deketan dengan adegan rapat pembentukan tarix jabrix yang sambil makan siomay....sungguh sayang...padahal kan di Bandung banyak banget tempat nongkrong yang oke, tapi setting tempatnya masih keliatan yang itu-itu juga...apalagi pas adegan jalan-jalan sambil bermotor rame-rame....makin kelihatan aja kalo di shootnya di situ-situ juga... pasteur, dago, dipati ukur, pajajaran, asia afrika, kota baru parahyangan...
ya, secara keseluruhan sih oke, menghibur.....mungkin lain kali kalo ada film sejenis yang mengambil adegan keliling kota bandung...sepertinya sutradara harus konsultasi dulu dengan kami...preman jalanan bandung...hihihi....peace ah..
Review versi studio 21nya klik ke sini aja ya... poster filmnya juga diambil dari situ 
 | Category: | Movies | | Genre: | Animation |
Film animasi dari seri bukunya Dr. Seuss (sayang di bandung susah dapet buku begini). Kisah Horton si gajah yang lembut hati, yang suatu hari mendengar teriakan minta tolong dari sebutir debu! Debu tersebut diselamatkan dengan cara ditempelkan pada setangkai bunga. Jadilah Horton jadi bulan-bulanan teman dan tetangga, yang menganggapnya gila karena ngajak ngomong sebutir debu. Hingga akhirnya seorang ibu kangguru bertekad untuk mengakhiri "omong kosong" Horton dengan menyewa jasa seekor burung pemakan bangkai untuk "menghabisi" Horton dan debunya.
Filmnya seru..biarpun buat anak-anak, humor yang dilontarkan terlalu berat. Seru juga ditonton sekeluarga, lumayan, ada cerita persahabatan dan kesetiaan, juga kerja keras...
Ah, gak panjang-panjang...nonton aja filmnya

Hehehe...judulnya serem yak?
Sebetulnya pengen nonton Love, tapi ternyata telat dateng ke bioskop, jadi udah keburu diputer. Mau nonton Ayat-ayat Cinta....kok males ya...pengen cari yang seru aja deh. Gak ada pilihan lain selain American Gangster, soalnya studio lain memutar Hantu Ambulance (sumpah...gak bakalan pernah nonton walaupun dibayarin juga), Love (udah main 15 menit yang lalu), XL:Extra Large (udah main 30 menit yang lalu), dan Ayat-ayat Cinta (2 studio, soalnya banyak banget yang nonton-nya, jadi males ahhh).
Sebetulnya agak setengah hati nontonnya, soalnya kepaksa aja, kadung ngantri panjang, masa gak jadi nonton Pas udah dapet tiket, langsung ngeloyor keluar antrian, tiba-tiba dicolek ibu-ibu...."Bu, masih dapet tiket buat yang jam 14 gak?"....hah? kok nanya aku sih? "emang ibu mau nonton apa? saya sih masih kebagian buat yang jam 12, tapi filmnya American Gangsters"....Si ibu itu melotot kaget...."Kok American Gangsters sih? kirain ibu-ibu mah nonton Ayat-ayat Cinta?"... hehe...no comment ah...
Membulatkan tekad, gak akan tidur di bioskop, saya mulai menikmati American Gangsters.
Yang main Denzel Washington sama Russel Crowe, dua-duanya pemain kelas pemenang Oscar, jadi ya...percaya aja deh sama film yang mereka bintangi.
Katanya sih...kata adegan pembukanya...diilhami dari kisah nyata tahun 60-70an di kawasan Harlem
Dibuka sama adegan darderdor dan orang yang dibakar....ih...mafia banget deh...(emang ini film mafia), Frank Lucas (Denzel Washington)yang sehari-hari bekerja sebagai supir seorang mafia penguasa Harlem, merasa kehilangan saat tuan-nya meninggal dunia. Selain menjadi supir Frank juga merangkap sebagai asisten pribadi, sehingga Frank banyak belajar tentang kehidupan mafia terutama mafia narkotika.
Keinginannya untuk menguasai Harlem, dimulai dengan mencoba menjadi bandar narkoba terbaik di kawasan itu, caranya, membeli langsung opium dari ladang di asia tenggara lewat kenalan sepupunya yang jadi tentara yang ditempatkan di bangkok.
Frank berhasil menyelundupkan narkoba dengan tingkat kemurnian tinggi ke Amerika dengan menebeng pesawat tentara Amerika.
Dengan memanfaatkan keluarga dan kenalan lama majikannya dulu, Frank berhasil menjadi mafia narkotika berkulit hitam paling berkuasa di Harlem. Meskipun begitu, sifat pemurah seperti yang diajarkan majikannya dulu masih dilakukan (bagi-bagi kalkun waktu thanksgiving)
Sementara itu, Richie Roberts (Russel Crowe), adalah seorang polisi yang jujur, tapi seperti biasa lah..rumah tangganya hancur. Richie mengembalikan uang sebanyak hampir 1 juta dollar, yang ditemukan di sebuah mobil milik jaringan narkoba, ke kantor polisi, yang membuat dirinya dibenci ramai-ramai oleh teman-temannya sesama polisi (terutama polisi yang tidak jujur)
Karena kejujurannya itu, Richie diminta membentuk unit khusus narkoba, tapi dengan syarat, anggota timnya harus sama bersihnya dengan dirinya.
Penyelidikan Richie membawanya kepada Frank....dan ketika tertangkap, Frank memilih bekerja sama untuk memberantas tidak hanya jaringan narkoba, tapi juga para polisi busuk yang menerima suap dari kartel narkoba.......
Akting Denzel dan Russel Crowe beneran memikat deh....secara dua-duanya sudah berkelas oscar. Film yang saya pikir penuh dengan dar der dor...ternyata enggak juga.
Ada sisi kemanusiaan dari mereka. Richie yang sempurna dan jujur dalam pekerjaannya, dituduh istrinya tidak jujur dalam kehidupan rumah tangganya....ya...gak ada yang sempurna kan? Sementara Frank, yang berkulit hitam, bertekad mengangkat derajat keluarganya dan membuat dirinya menjadi nomer satu...biarpun dalam konotasi buruk...tapi berhasil.
Frank dihukum 70 tahun, tapi karena berkelakuan baik, dibebaskan tahun 1991.
Moral of the story : Tekad kuat, kerja keras, pasti berhasil....trus kalo mau berantas kejahatan, mulai dari pemberantas kejahatannya dulu....bersihkan polisinya, baru deh bisa beres.
Berasa mimpi emang, saat melihat penangkapan para polisi korup itu....kapan ya di Indonesia ada adegan kayak gitu....semua polisi korup ditangkepin...
 | Love | Mar 1, '08 1:08 AM for everyone |
Love...Cinta....tema film yang selalu jadi favorit, soalnya tanpa cinta, dunia tak berwarna....cie...
Setelah berminggu-minggu main di bioskop, baru kemarin sempat nonton film Love ini gara-gara mas Fathin yang mereview kalo film ini lebih layak tonton daripada film Indonesia yang lain yang lagi diputar di bioskop Indonesia. Sebetulnya tergoda buat nonton Ayat-ayat Cinta, tapi entah kenapa, pas nyampe di depan si mbak penjual tiket, selalu berubah pikiran. Beberapa hari yang lalu malah nonton American Gangster...hehehe.... emak-emak....tontonannya...meni serem judulnya.
Sinopsisnya baca di sini aja ya....
Dari pembukaannya aja, saya sudah tahu bahwa filmnya bakal asyik ditonton.
Dibuka dengan dua anak yang sedang bermain di ladang, si anak lelaki memberikan gelang sambil berkata "kalo gelangnya copot, beritahu aku ya, karena hanya aku yang bisa membetulkan gelang itu"......diakhiri dengan adegan berpisahnya kedua anak itu karena si anak lelaki harus pindah.
Babak-babak selanjutnya mengalir indah diiringi lagu Sempurna-nya Andra& tha back bone, tapi dinyanyikan ulang sama Gita Gutawa (soalnya penata musiknya Erwin Gutawa )
Tapi...kok adegan Sophan Sophian & Widyawati....seperti mengingatkan saya dengan film 51 First Date-nya Drew Barrymore dan Adam Sandler ya? cuma di sini diceritakan kalo Pak Guru menderita Alzheimer (perasaan yang sakit alzheimer gak gitu-gitu amat deh ) yang mengulang melakukan hal-hal yang sama setiap hari (sampe tukang cukur harus berpura-pura nyukur rambut pak guru, karena tiap hari pak guru lupa kalo kemarin sudah mampir ke situ)
Trus...satu adegan lagi yang bikin saya de ja vu.....adegan Luna Maya dan Darius Sinathrya di toko buku, mengingatkan saya dengan film Notting Hill-nya Julia Robert dan Hugh Grant ya?
Akting pemainnya lumayan oke deh, gak ngaco kayak sinetron Indonesia, Fauzi Baadila pas banget memerankan tokoh Rama yang desperate karena pacarnya dinikahi oleh kakak iparnya. Acha juga bagus memerankan tokoh Iin, yang orang kampung, mencari kekasih yang telah menghamilinya. Cinta membuat mereka saling menerima apa adanya, meskipun Iin tengah mengandung anak dari lelaki lain.
Aktingnya Sophan Sophian dan Widyawati juga masih oke, meskipun kali ini mereka berperan sebagai janda dan duda yang sama-sama mencari cinta di kala senja mereka. Cinta diantara mereka membuat Pak Guru sembuh dari alzheimer-nya....hihi...tapi kok agak maksa ya, kalo kata saya sih. Kalo kata Fathin....cinta itu menyembuhkan.
Luna Maya dan Darius hmmm biasa aja, secara mereka berdua memang good looking, trus kisah cintanya juga standar banget, ato karena saya membandingkannya dengan Notting Hill, jadi agak-agak biasa aja melihat cerita cinta mereka. Segalanya so cute deh...pokoknya ABG di belakang saya berulang kali terkikik senang melihat adegan cinta mereka yang penuh kejutan (maklum, anak muda banget)
Kisah cintanya Dinda dan Restu (Laudya Cinthya Bella & Irwansyah) juga cukup "membumi", cinta pada pandangan pertama di dalam bis Trans Jakarta alias busway, yang ternyata harus berakhir tragis karena Dinda mengidap kanker payudara, dan cinta mereka beneran sampai akhir hayat. Tapi...."yah protes melulu"....kok adegan pemakamannya kurang "ngindonesia" ya? soalnya di Indonesia kan gak ada areal pemakaman model bule yang rata kayak padang rumput, trus ada nisan-nisan nongol....hehe...jadi berasa di negri dongeng deh pemakamannya.....tapi akting mereka cukup memikat kok. Love at first sight...never dies...
Satu lagi kisah cinta, kisah cintanya Gilang dan Miranda (Surya Saputra dan Wulan Guritno), yang mereka menikah karena MBA, sementara Gilang cinta mati sama Miranda, tapi ternyata Miranda merasa gamang karena MBA memaksa dia mendadak menjadi istri dan juga ibu dari seorang anak yang autis. Biar bagaimanapun cinta ibu sama anaknya memang gak bisa terpisahkan. Ending yang bagus buat para pasangan yang memutuskan berpisah, jangan sampai perpisahan membuat anak jadi korban dan diakhir cerita Gilang (yang ternyata adalah si anak lelaki yang memberikan gelang pada pembuka film) akhirnya bertemu belahan jiwanya saat kecil dulu....
And they live happily ever after....gitu deh...
Ah...cinta...selalu indah deh kalo ngomongin cinta, gak bosen nonton film cinta.....tapi kalo nonton Ayat-ayat Cinta....hmmmm nanti dulu deh... saya pilih nonton P.S. I Love You dulu aja deh....
sampe ketemu di film cinta yang lain
Nonton film ini kepaksa...daripada pulang ke rumah, naik angkot, sampe rumah mesti pergi lagi ke supratman ngambil mobil yang lagi ditune-up, mending nunggu di BIP...hehe Berhubung film Quicky Express (film Indonesia nih...), Butterfly (film Indonesia juga..), dan Get Married (hehe...film Indonesia juga...lho kok judulnya berbahasa Inggris? ) sudah sold-out tiketnya, jadi saya pilih Butterfly on a Wheel aja (ini asli dari hollywood sana).
Kenapa milih yang ini, soalnya yang main Pierce Brosnan....huhuy...si kasep Remington Steele itu, masih kasep aja.
Meskipun agak kecewa , karena dia bermain sebagai pria psikopat yang menyandera sepasang suami istri dan mengancam akan membunuh anak mereka kalo tidak bersedia mengikuti kemauannya.
Dimulai dengan menguras tabungan pasangan Neil & Abby dari bank, sesudah uang dikantongi...(dikoperi sih tepatnya...da ratusan ribu dollar), uang-uang tersebut bukannya dipake belanja, tapi malah dibakar dan dibuang ke sungai. Udah bikin syok pasangan tersebut Tom (Pierce Brosnan), mengambil seluruh dompet dan uang yang ada disaku Neil dan Abby, trus dengan seenaknya makan di restoran mahal yang jadi langganan Neil, trus minta dibayari! Nah lo... Neil kan gak punya uang, dan dompet berisi kartu kredit ada di tangan Tom. Dengan diberi waktu sekitar setengah jam, pasangan itu harus mencari uang sebanyak $300 untuk membayari makanan Tom, ato reputasi Neil di mata pelayan restoran itu akan hancur. Sambil berlari kesana kemari mencari bantuan, akhirnya Abby merelakan perhiasannya dijual seharga $300.
Masih belum puas mengerjai mereka berdua, kali ini Abby diminta untuk pergi mengantarkan sesuatu. Adegan-adegan berikutnya penuh ketegangan, karena Abby terus menerus, tidak menyerah selalu menuruti keinginan Tom, agar anak mereka Sophie tetap selamat.
Abby ternyata diminta untuk mengantarkan bukti kolusi yang dilakukan Neil pada kliennya. Jika bukti tersebut sampai, maka karir Neil akan hancur.
Sepanjang perjalanan, kebingungan meliputi benak Abby dan Neil (dan juga saya sebagai penonton... ), siapakah Tom dan apa maunya.
Akhirnya setelah berputar-putar keliling kota dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan, akhirnya Tom meminta Neil untuk pergi ke tempat pertemuan yang seharusnya dihadiri oleh Neil dan bosnya sejak siang hari tadi.
Tiba di sebuah rumah di tepi kota, Tom memberikan pistol kepada Neil dan memberikan tugas terakhirnya, sebelum Tom membebaskan Sophie. Tugasnya sangat berat, karena Neil diharuskan membunuh orang yang ada di dalam rumah tersebut, dalam hal ini, seharusnya orang yang ada di dalam pondok adalah bosnya.
Ternyata...yang ada di rumah tersebut bukanlah bosnya Neil, tetapi sekretaris perusahaan yang selama ini menjadi selingkuhannya Neil.... Saking cintanya Neil sama keluarganya, Neil nekat, menembak kepala selingkuhannya...dor...eh kok nggak ngedor bunyinya... ternyata pistolnya kosong. Terungkaplah siapa Tom sebenarnya...Tom adalah suami selingkuhan Neil....aih pantes aja segitu dendamnya.
Akhirnya mereka pulang, dan menemukan putri mereka selamat...happy end?.... Belum.... dan ternyata eh ternyata....semua yang dilakukan oleh Tom adalah usul dari Abby....jadi nggak ada uang dibakar, nggak ada rahasia yang dibocorkan, dan nggak ada penculikan, karena emang Sophie gak kemana-mana, ada di rumah sama Nanny terbaik pilihan Abby. Abby ingin suaminya mengalami rasanya kehilangan dan ketakutan seperti apa yang dia rasakan selama ini, dan berhasil dong...
Ah....cara balas dendam yang manis...
As a Wife, as a Mom, as a Married Woman, saya dukung dah idenya Abby itu.... daripada ngedamprat dan ngedobrakrumah si WIL sampe terjadi pertumpahan darah... begini lebih asyik kayaknya... jadi kelihatan kan, betapa si lelaki masih milih istri dan anaknya dibanding sama selingkuhannya....
Film selesai....pasangan yang duduk di sebelah saya ngomel - ngomel....film apaan nih, gak rame banget... hehe pasti itu cewek masih pacaran, blom nikah...coba klo udah nikah..pasti gak ngomong gitu...
Moral of the story............JANGAN SELINGKUH.........
Senin-senin begini.....nomat dong...... trus diajak nonton bareng sama Cindy, Acip, Jesis, Rina, sama Dimas. Pokoknya ngumpul aja di Ciwalk XXI, blom tau mo nonton apa. Ternyata sama Acip dibeliin tiket Enchanted... saya mah hayu-hayu aja, selama bukan film horor .
Masuknya rada telat, gara-gara Dimas pake blanja blanji dulu di Yogya....tapi blom telat-telat amat sih.
Kirain film biasa aja, ternyata............seru dan kocak Dibuka dengan adegan film kartun biasa, ada Giselle, Beautiful Princess-nya, dengan rambut blonde-nya yang berombak-ombak, jatuh di pangkuan Prince Charming, Pangeran Edward yang langsung memintanya untuk menikah dan....they live happily ever after.
Tapi, Giselle blom sempet sampe di kastil untuk menikah, udah keburu di"jongkrok"in sama ibu tiri Pangeran Edward yang jahat, ke dalam sumur yang ternyata tersambung ke dunia "kita" di Manhattan, New York, yang katanya bukanlah dunia yang bisa "live happily ever after".
Dunia kartun berubah jadi dunia "kita" deh. Giselle (diperankan dengan manis oleh Amy Adams), kebingungan mencari kastilnya yang ada di negri dongeng. Ditengah kebingungannya, Giselle menemukan papan reklame berbentuk Princess Castle, dan wups.... adegan Giselle yang jatuh ke pangkuan Prince Charming terulang lagi, tapi kali ini Giselle "ditangkap" oleh Robert (oh....ternyata beneran charming....diperankan oleh Patrick Dempsey), seorang duda beranak satu, seorang pengacara perceraian.
Adegan-adegan selanjutnya betulan asyik untuk ditonton, soalnya banyak adegan kartun yang "dimanusiakan".....jadinya lucu dan seru aja... Dari mulai kebiasaan Princess di film kartun yang doyan nyanyi, binatang-binatang yang langsung "terbius" oleh nyanyian si Princess, kebiasaan si princess yang bikin baju sendiri (pake motong gorden di rumahnya Robert), sampe kebiasaan si Prince Edward (James Marsden) yang menganggap semua orang yang bukan bangsawan adalah petani
Serunya...di cerita-cerita kartun kan gak pernah ada cerita detail tentang Prince Charmingnya, biasanya tokoh utamanya ya si Princess-nya aja, nah... kali ini ada cerita tentang Prince Charmingnya...yang ternyata....oon banget...hehe. Ya...biarin deh....biar rada beda dikit sama cerita Princess pada umumnya.
Adegan Kiss by A Prince juga gak lupa disajikan lho....dengan sedikit sentuhan komedi juga, soalnya si Prince Edward langsung dengan pe-de nya mencium Princess Giselle, tapi udah berkali-kali dicium, masih gak bangun juga...hehe, soalnya True lovenya Giselle (seperti sudah diduga sebelumnya) adalah Prince Charming dari dunia nyata....Robert si pengacara.
Satu lagi.....sepanjang film kita disuguhi lagu-lagu manis khas Disney, ceritanya juga tokoh kartun yang jadi orang...ya kerjaannya nyanyi melulu...hehe. Lagu-lagu yang dinyanyikan buatannya Alan Menken, yang biasa bikin sountracknya Disney (Pocahontas, Aladin dll), makanya top abis dah...
Yang pasti, film ini film cewek banget....biar udah emak-emak, masih seneng juga sih nonton yang romantis-romantis kayak begini, kayak ABG aja
Biar film cewek, ternyata dua cowok yang nonton bareng saya juga menganggap film ini seru buat ditonton.
Endingnya....ya bisa ditebaklah..... They Live Happily Ever After....
ye...katanya di negri nyata ini gak ada yang namanya live happily ever after............tapi gimana ya...emang kalo film gak dibikin happy ending.... pada kapok dong penontonnya
Rina aja masih termehe-mehe sampe pulang..... Prince Charming yang dari New York-nya charming banget sih....
Selamat pada nonton ya.....
BTW...ternyata pemeran ibu tirinya adalah Susan Sarandon.... kok baru nyadar ya....hehe. Adegan ratu jahat muncul....kok mengingatkan saya dengan adegan film horornya Suzzana
Saking sebelnya lihat tayangan sinetron di televisi Indonesia yang gak kenal waktu (dari pagi sampe pagi lagi...please deh..) kok saya malah jadi kangen sama satu tayangan yang mulai "punah" dari televisi Indonesia....Telenovela.
Awal tahun 90 sampe 2000 kayaknya gak ada satupun televisi yang bebas dari telenovela (kecuali metro tivi tentunya)
Biar dulu sebel, dikit-dikit telenovela, tapi setelah sekarang gak ada, kangen juga. Kalo diliat dari cerita sih, sama aja sama sinetron jaman sekarang...rada gak masuk di akal, tapi toh menghibur juga sih, yang pasti, bikin ketagihan.
Saya masih inget sama telenovela yang saya tonton pertama kali judulnya Wild Rose di RCTI tiap jumat siang...hehe masih hafal banget deh. Dulu masih dubbing bahasa Inggris, jadi para pembantu masih belum berminat nonton. Setelah cerita si Rossy itu selesai, mulai banyak deh telenovela2 lain dan serunya, kali ini ceritanya lebih mudah diikuti karena didubbing dalam bahasa Indonesia.
Ada 2 judul yang beneran jadi favorit ibu-ibu yaitu Maria dan Esmeralda. Kedua telenovela itu "terpaksa" saya tonton, soalnya waktu itu semua perempuan (ibu dan 2 adik perempuan saya) di rumah, nonton 2 telenovela tersebut.
Ceritanya sama aja sih, gadis miskin yang terpikat lelaki kaya, tapi setelah menikah, disia-siakan, ya udah deh, sepanjang cerita menderita melulu akibat disiksa lahir batin oleh tokoh antagonis dalam cerita tersebut, tiada hari tanpa air mata deh...tapi happy ending.
Biarpun saya gak nonton tiap hari, karena jadwal kuliah yang padat, tapi tetep bisa ngikutin ceritanya, karena intisari cerita satu episode emang cukup dirangkum dalam satu kalimat saja...hehe. "Bumbu"nya aja yang kebanyakan, yang membuat satu episode jadi panjang.
Gara-gara telenovela, di masa itu jadwal rapat dan arisan ibu-ibu gak boleh sampai mengganggu jadwal nonton telenovela. Saya ingat banget, tiap rapat KIKK (keluarga istri karyawan dan karyawati) di kantor bapak saya, para ibu selalu memilih waktu yang gak bentrok sama telenovela. Pokoknya, paling lambat jam 3 sore, rapat harus sudah selesai karena jam 1/2 5 sore ada Esmeralda, jadi harus ada space waktu buat masak dulu sebelum nonton.
Akibat dasyatnya pengaruh telenovela di masyarakat karena berhasil membuat penontonnya "nyandu", sejumlah tokoh masyarakat sempat mendemo keberadaannya dan kritik keras di media-media, tapi biasa deh... anjing menggonggong kafilah berlalu, lha wong penontonnya banyak, iklan mengalir deras, ya telenovela jalan terus....tancap bleh..
Sekian tahun hidup dengan telenovela, hanya ada sekitar 5 judul yang saya tonton (kalo sempet), Maria, Alicia, Esmeralda, Gadis Pemimpi, dan Betty la Fea
Betty la fea adalah telenovela terakhir yang saya tonton....masih gak masuk akal juga sih ceritanya, tapi hehe lumayan lah, menghibur hati melihat usaha Betty menyemangati tim "buruk rupa" di kantor tersebut untuk selalu percaya diri dan menerima diri apa adanya.
Sekarang....udah gak ada telenovela...kok ya kangen...kangen sama cerita cintanya yang gak masuk akal itu, juga percakapan para tokohnya yang "menggelikan" akibat di dubbing ke dalam bahasa Indonesia, tapi ternyata menghibur juga.
Oh...telenovela...I miss u....
photo taken from : http://www.serials.ru/galleries/en/maria_la_del_barrio
Hmm... Baru aja nonton (lagi) Scent of Woman nih... Trans7 kan minggu ini tema-nya Film-film peraih Oscar.
Ada sedikit cerita kenangan saat saya nonton film ini, 15 tahun yang lalu...oops gak kerasa ya...
Pas iklannya keluar, saya dan Ira, teman sesama "Tukang Nonton" sudah langsung mencari jadwal lowong untuk menonton film ini. Maklum...kuliah TPB di ITB....tiada hari tanpa praktikum, jadi harus maksain nih.
Entah kenapa kita nggak jodoh banget kayaknya untuk nonton film ini cepat-cepat, ada aja halangannya, sampe akhirnya kami bisa nonton karena ada satu mata kuliah yang dibatalkan karena semua dosen di jurusan kami pergi melayat seorang mantan dekan yang meninggal dunia.
Kami langsung cabut ke BIP, soalnya ini film emang cuma tinggal diputer di situ, sambil menghela napas lega, karena akhirnya kesampaian juga nonton ini film yang kata review di koran dan majalah, bagus banget.
Jerih payah kami untuk memaksakan diri nonton film ini emang gak sia-sia... filmnya bagus banget.
Yang membintanginya Al Pacino dan Chris O'Donnell, Al Pacino berperan sebagai Kolonel Frank Slade, purnawirawan Angkatan Darat yang menjadi buta, sedangkan Chris O'Donnell berperan sebagai Charlie Simms, seorang siswa miskin peraih beasiswa di suatu sekolah ternama.
Charlie disewa oleh keluarga Frank untuk menjadi "baby sitter"nya Frank selama liburan Thanskgiving.
Charlie sendiri sedang bingung, karena menjadi saksi atas perbuatan tercela teman-temannya (yang merupakan anak-anak orang kaya dan berpengaruh di sekolah). Karena gak mau mengadukan temannya, Charlie diancam akan dikeluarkan dari sekolah.
Ternyata selama liburan ini, Frank juga berencana pergi ke New York, jadi mereka berdua berjalan-jalan dan menginap di hotel mewah. Ternyata Frank berniat bunuh diri setelah sebelumnya bersenang-senang memuaskan dirinya.
Niat Frank berhasil digagalkan oleh Charlie, mereka kembali ke rumah.
Charlie masih harus menghadapi sidang komite sekolah berhubungan dengan perbuatan teman-temannya, tak disangka Frank datang dan menemani Charlie dalam sidang, dan mencela sidang tersebut habis-habisan.
Akhirnya bisa ditebak...happy ending dong...
Cerita Scent of Woman, diangkat dari film Itali berjudul Profumo Di Dona, produksi tahun 1975.
Adegan yang banyak disorot orang adalah adegan saat Al Pacino yang ceritanya buta ini berdansa Tango dengan Gabriel Anwar...hmm emang top deh Al Pacino
Cuma....kok Chris O'Donnell gak secakep dulu ya? hehe.... apa karena dulu mah waktu nonton di bioskop masih ABG umur belasan taun, kalo sekarang udah emak-emak beranak satu
Besok...filmya Shakespeare in Love....mudah-mudahan gak kelewat...
Biasanya tiap libur lebaran saya suka menyempatkan pergi ke bioskop, soalnya saat hari raya adalah saatnya launching film-film yang (biasanya) seru, karena penonton pasti lagi banyak-banyaknya.
Saya ingat, pemutaran Harry Potter 1 juga pas lebaran, jadi antriannya jangan ditanya...puanjang banget. Tiket pertunjukan untuk malam hari juga terpaksa sudah dijual, karena antrian sudah terlalu panjang.
Lebaran tahun ini ceritanya tergoda buat nonton Get Married. Udah semangat 45 ke BSM....alamak ternyata tiket pertunjukan hari itu sudah terjual habis. Ya...resiko sistem pembelian tiket sekarang yang bisa dibeli muka ya begini ini. Antrian gak keliatan, tapi tau-tau abis aja.
Ya udah...coba ngelirik ke film lain....alamak... studio 3: Kuntilanak2, studio: 4 Suster N, studio 5: Pocong 3, studio 6: film asing yang ternyata horor juga
Entahlah...mungkin memang lebaran taun ini gak ada film hollywood yang bermutu yang layak ditonton ato emang penonton sekarang doyannya yang horor-horor.
Gak tau kenapa, saya gak pernah hobby nonton film yang seram-seram atau yang darderdor berlumuran darah. Ya...rada serem dikit kayak sixth sense masih oke sih.... tapi kalo yang Jailangkung,Pocong, kuntilanak, hantu kebon jeruk, lantai 13... ah gak minat banget.
Saya jadi inget waktu nonton Interview with the vampire. Saya bersedia nonton, karena yang mainnya Tom Cruise, Brad Pitt dan Christian Slater, tapi....wops...kok serem juga ya... ah kapok deh nonton film kayak gitu lagi, biarpun yang mainnya kasep.
Kata adik saya (yang hobby banget nonton film horor/thriller), nonton film horor itu seru, soalnya dibikin penasaran sampe akhir dan asyik bisa jerit-jerit....
Ye....nonton DaVinci Code juga penasaran, tapi paling enggak pemandangannya bagus dan gak pake ditakut-takutin, trus kalo mau jerit-jerit pergi aja ke lapangan bola, nonton pertandingan..
Tapi biar banyak yang mengkritik, film horor toh masih banyak diproduksi dan memang banyak juga penontonnya, apalagi ABG-ABG.
Buat saya, nonton itu harus menghibur, syukur-syukur nambah wawasan, tapi paling enggak pulang nonton, hati senang dong...
Gak pa pa deh saya dikatain penakut, daripada nonton sambil gak happy!
Saya sih masih setia nonton film-film macam Ghost (nah kalo ini biar judulnya Ghost tapi gak serem, malah romantis abis...hehe soalnya waktu nonton dulu masih ABG), Titanic, A wAlk In the Cloud, While You Were Sleeping dan sejenisnya deh...
Pulang berlinang air mata gak pa pa, daripada pulang-pulang jantungan, ato seperti adik saya...gara-gara nonton Suster Ngesot malam-malam, pulang nyetir sendiri, ketakutan sepanjang jalan... hih...salah sendiri...
Tukang Nonton....begitu kata temen-temen saya waktu SMA dan kuliah dulu. Bayangkan saja, tiap ada film baru (asal jangan film horor....gak doyan...) mesti langsung cabut ke bioskop. Apalagi yang main dan Tom Cruise & Pierce Brosnan nu kasep tea.
Waktu SMA, rada susah cari temen nonton, paling adik-ku, ato kalo udah bete, nonton...sendiri.
Pas kuliah, ternyata ketemu teman asal Bogor sesama movie mania dan sesama penggemar Tom Cruise dan Pierce Brosnan...cocok klop kan Apalagi tiket bisokop saat itu berkisar Rp 2500 - Rp 4000 saja, kira-kira sama dengan harga semangkuk bakso. Biasanya kami memilih nonton hari Senin, karena hari itu kami puasa sunah, jadi ongkos buat makan bakso kita pake nonton.
Semangat nonton terpaksa dikurangi saat krismon melanda, dan harga tiket melambung tinggi jadi Rp 15.000 - Rp. 20.000. Tapi kemudian diberlakukan nomat-nonton hemat tiap senin, syukurlah... hobby nonton masih bisa berlanjut meskipun tiap senin harus rela antri bareng sama ABG.
Ayah Tio bukan penggemar nonton film, tapi kadang suka ketularan juga, tergoda buat ikut nonton, meskipun sepanjang jalan menuju bioskop cerewet tanya-tanya tentang kira-kira jalan ceritanya kayak apa, trus rame apa nggak., jadi justru saya jarang banget nonton sama ayah Tio kecuali emang beliau yang ngajak.
Sekarang, ada Tio, hehe...berminat "menurunkan" hobby dong.
Tio saya ajak nonton pertama kali di bioskop saat umur 3 tahun. Soalnya udah berani di tempat gelap, udah bisa ngomong kalo mau pipis, trus udah mau duduk diam dalam jangka waktu cukup lama.
Film pertama yang ditonton Tio adalah Madagascar, yang menceritakan kehidupan satwa di kebun binatang yang kemudian dilepas ke Afrika, tapi nyasar ke pulau Madagascar. Tio sangat bersemangat saat akan menonton. Kami nonton di BSM biar dekat rumah. Tio belajar beli tiket sendiri, trus belajar cari studio dan tempat duduk sendiri. Cuma sayang, film blom selesai, Tio udah ketiduran.
Tapi ternyata Tio gak kapok...dia semangat mau nonton lagi.
Trus ketika film Ice Age2 diputar, kami nonton lagi. Kali ini sekalian mencoba bioskop baru di Braga Citiwalk. Hehe, lagi-lagi Tio bobo di tengah film.
Film-film kartun dan anak yang selanjutnya gak pernah terlewat kami tonton...soalnya Tio udah tau cara lihat ada tidaknya film baru....baca koran, dan lihat di bagian info film.
Setelah Ice Age2 kami nonton Chicken Little, Cars....hmmm masih jadi favorit sampe sekarang, Happy Feet, The Wild, Chronicle of Narnia, Charlotte's Web, Flush away, Surf Up, bahkan Harry Potter5 ( hehe....ini mah emaknya yang pengen nonton) dan yang terakhir The Reef (cuma diputer di Blitz megaplex)
Tapi yang menyebalkan, ternyata bioskop 21 hanya bersedia memutar film jika jumlah penonton minimal 10 orang. Ini kejadian waktu nonton Meet The Robinson....kami terpaksa gak jadi nonton karena penontonnya cuma kami berdua. Supaya Tio gak kecewa, akhirnya kami pindah nonton film Mr.Bean's Holiday (yang ternyata diperuntukkan untuk remaja....heh...gemes ama penjual tiket yang bilang ini film semua umur) .
Berdasarkan pengalaman ini, saya dan Tio memilih nonton di blitz megaplex, karena di sana biarpun penontonnya cuma seorang, film tetap diputar.
Yang pasti sekarang Tio sudah bisa menonton film sampe tuntas, gak pake ketiduran di tengah film
|
|